Resensi Buku : Novel “Rindu” Karya Tere Liye
![]() |
| Novel karya Tere Liye dan segelas kopi dingin |
Tentang
Buku :
·
Judul Buku : Rindu
·
Penulis :
Tere Liye
·
Penerbit : Republika
·
Editor : Andriyanti
·
Tahun Terbit : Oktober 2014/ Cetakan I
·
Tempat Terbit : Jakarta
·
Tebal Buku : 544 Halaman
Di
penghujung tahun 1938, tepatnya tanggal 1 Desember 1938. Sebuah kapal besar
yang mengangkut penumpang jamaah haji bernama Blitar Holland memulai perjalanan
dari pelabuhan Makassar menuju pelabuhan Jeddah. Pada zaman itu perjalanan
menuju Mekkah memakan waktu hingga berbulan-bulan. Kapal Blitar Holland
berangkat melalui rute Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, dan
Banda Aceh.
Semua
tokoh yang terlibat dalam permasahannya masing-masing digambarkan dalam selama
perjalanan dalam kapal ini. Tokoh-tokoh sentral yang terlibat adalah Gurutta Ahmad Karaeng. Ia adalah seorang
ulama termasyur ketika itu di Makassar. Penumpang selanjutnya adalah Daeng
Andipati, seorang yang terpandang karena merupakan pedagang kaya yang juga
telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Belanda. Ia berangkat bersama
isrti dan kedua anaknya Elsa dan Ana.
Namun
dibalik kekayaan dan kebahagiaannya, Daeng Andipati ternyata memiliki dendam
yang amat besar yang ia simpan selama masih berusia 15 tahun. Kekerasan,
kemunafikan, dan kelicikan adalah motifnya untuk membenci seseorang yang
seharusnya ia hormati, Ayah kandungnya. Beruntung ia tumbuh dengan pribadi yang
bertolak belakang dengan Ayahnya. Ia sangat mencintai keluarganya dan selalu
rendah hati pada siapa pun, hanya saja rasa benci yang sangat besar pada
ayahnya tak kunjung hilang bahkan setelah ayahnya wafat.
Penumpang
selanjutnya bernama Bonda Upe atau
dengan nama lain “Ling Ling” merupakan guru mengaji anak-anak selama perjalanan
di atas kapal. Wanita keturunan China itu juga ternyata menyimpan kisah kelam
pada masa lalunya. Ia dijadikan seorang cabo
atau pelacur oleh lawan judi ayah kandungnya setelah kalah taruhan. Musabab
itulah yang membuatnya tumbuh menjadi orang yang tertutup serta menyimpan
pertanyaan besar selama perjalanan itu.
Ambo
Uleng, seorang pelaut yang juga pernah menjadi juru kemudi kapal Phinisi juga
menjadi bagian dalam pelayaran itu. Ia rela menjadi seorang kelasi yang
bertugas di dapur demi lari menjauh dari kesedihan dan keterpurukannya yang
amat mendalam. Namun alasannya untuk pergi menjauh dikalahkan oleh takdir yang
kemudian membawanya kembali pulang.
Di
antara ribuan penumpang di kapal itu, terdapat juga pasangan sepuh yang bernama
Mbah Kakung dan Mbah Putri. Kedua pasangan yang telah memasuki usia senja itu
memilki kisah cinta yang membuat seluruh orang iri pada mereka. Namun saat
dalam perjalanan menuju tanah suci takdir berkata lain. Mbah Putri wafat usai
salat subuh bersama sang suami dan jasadnya ditenggelamkan ke dasar laut. Hal
ini yang kemudian membuat Mbah Kakung terpukul karena kehilangan kekasihnya.
Kejutan
besar terjadi saat kapal Blitar Holland dirampok oleh perompak Somalia, akhir
yang tak diduga bahwa Gurutta Ahmad
Karaeng juga ternyata menyimpan pertanyaan yang sangat besar. Ia yang dianggap
paling bisa menjawab semua masalah-masalah penumpang ternyata juga tak mampu
menemukan jawaban dari pertanyaan yang selalu ia takutkan akan terjadi.
Membaca
buku ini bisa saja menguras air mata bagi yang tak tahan dengan kisah pilu,
seperti saat isteri Mbah Kakung meninggal dunia. Kisah mereka begitu indah dan
tak ada yang bisa menebak akhirnya akan terjadi seperti itu. Selain menguras
air mata, buku ini juga bisa membuat jantung kita berdegub kencang saat Daeng
Andipati akan dibunuh seseorang dari dalam lorong yang gelap serta saat para
penumpang yang melawan para perompak yang telah menguasai kapal Blitar Holland.
Dengan
alur cerita maju mundur serta gaya bahasa sederhana dan ringan membuat pembaca
dengan mudah memahami cerita tersebut. Meskipun ada beberapa kalimat yang
dicampur dengan bahasa Belanda, namun itu tidak menjadi masalah karena dengan
begitu cerita ini menjadi lengkap dengan nuansa belanda pada zaman itu.
“Goede Nacht, Tuan Gurutta, Daeng.” Kapten Phillips menyambut di pintu.
“Nacht, Phillips.” Gurutta mengangguk. Daeng Andipati di sebelahnya juga ikut
mengangguk membalas salam. (Hal. 414)
Cerita
ini memiliki konsep yang sangat bagus, masalah-masalah yang ada dapat
diselesaikan dengan sangat baik, dan tak mudah ditebak oleh pembaca apa kisah
selanjutnya yang akan terjadi. Pembaca juga dapat menangkap pesan yang
disampaikan dan tentunya sangat menginspirasi setiap pembacanya.
Namun
pada beberapa halaman, pembaca dapat menemukan pengulangan kalimat dan
kejadian. Seperti saat beberapa kali kapal hendak berlayar, Elsa dan Ana pasti
akan keluar ke dek kapal dan melabaikan tangan serta tertawa bersama.
Pengulangan ini bisa saja membuat pembaca terkadang merasa bosan. Tapi tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap penulis mempunyai ciri khas masing-masing dalam
menulis. Cover buku ini juga kurang menarik minat pembaca, bagi orang awam bisa
saja berasumsi bahwa buku ini adalah buku yang bercerita tentang kisah cinta
remaja saja.
Darwis
dengan nama pena Tere Liye menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sudut
pandang orang ketiga sering ia gunakan dalam menulis novel seperti salah satu
bukunya yang berjudui “Dia Adalah Kakakku”. Kedua novel ini juga memiliki
kemiripan dalam dialog tokohnya. Dialog kakak beradik Elsa dan Ana mirip dengan
tokoh Juwita dan Delima yang polos dan suka bertengkar kecil dengan tingkah
kekanak-kanakan.
Akhir
kata. Selain menginspirasi, buku ini juga membuka mata pembaca tentang
sejarah-sejarah pada masa lampau, serta menambah wawasan pembaca tentang sebuah
situasi perjalanan panjang menggunakan dengan jalur laut. Pada bagian-bagian
tertentu, novel ini bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui nama-nama tempat
serta kendaraan yang terkenal pada zaman itu. Novel ini juga bersifat mendidik
serta bebas dibaca oleh siapapun, karena cerita ini juga menyampaikan pesan moral
tentang keberagaman bahasa, budaya, warna kulit, maupun agama.
“Saat
kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah
dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan
untuk memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.” (Hal.
374)

Komentar
Posting Komentar